Yuan China Menjadi Indikator Kemajuan Perang Dagang AS-China

Perang dagang antara dua negara dengan ekonomi paling besar di dunia terus mengalami kenaikan tensi. Terlebih lagi setelah adanya berita yang menyebutkan bahwa Presiden Trump memiliki rencana untuk menaikkan kembali tarif tambahan pada barang-barang asal China senilai $300 Miliar. Tekanan bearish semakin meningkat ketika bank sentral China memutuskan untuk menetapkan nilai tukar Yuan China terhadap USD di level paling rendah dalam satu dekade sejak krisi keuangan lalu.

Presiden Trump memberikan pernyataan bahwa pemerintah AS tidak siap untuk melakukan kesepakatan dagang dengan China. Sampai saat ini tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan AS kecuali apa yang sudah dilakukannya yaitu menaikkan tarif 10 persen pada barang China. Dengan pernyataan ini maka bisa dinilai bahwa pemerintah AS akan bergerak lebih lanjut dalam pemberlakukan tarif tambahan pada produk impor asal China.

Fakta bahwa konflik dagang antara AS dengan China yang semakin diperpanjang setelah gencatan senjata pada KTT-G20 kemarin akan ada revisi mengenai pertumbuhan global. Bagaimanapun juga hubungan kedua negara yang kurang baik membuat permintaan global semakin anjlok dan menyebabkan adanya revisi mengenai pertumbuhan PDB global.

Kejatuhan Yuan China

Bank sentral China (PBoC) telah menjatuhkan nilai tukar Yuan China terhadap USD sebagai aksi balasan karena pemberlakukan tarif tambahan pada 1 September mendatang. Saat ini pasangan mata uang USDCNH sedang berada di atas level harga 7,0000. Level ini merupakan titik yang pernah dipertahankan oleh PBoC pada tahun 2016 akhir dan Oktober 2018 lalu ketika ketegangan memuncak.

Pasar mungkin akan terus melakukan pengawasan pada nilai tukar Yuan China sebagai indikator kemajuan perang dagang AS-China. Saat ini pasangan USDCNH sedang diperdagangkan di atas level 7,0 tepatnya berada di 7,10 .

Baca Juga:   China Akan Membalas AS Dengan Cara Yang Lebih Menyakitkan

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar