USD/JPY Terkoreksi Mundur Akibat Merebaknya Kekhawatiran Resesi

Yen dan Indeks Dolar AS terus menguat. Hingga sesi perdagangan Kamis (15/Agustus) dini hari, USD/JPY dalam time frame harian masih menunjukkan penurunan 0.72 persen ke 105.99, sudah menghapus separuh kenaikan yang diperolehnya kemarin.

Inversi Yield Curve US Treasury

Kondisi ini terjadi setelah inversi curve yield obligasi US Treasury untuk pertama kalinya sejak tahun 2007. Artinya, risiko resesi ekonomi global kemungkinan meningkat. Para investor yang merasa khawatir akhirnya berbondong-bondong membeli aset-aset safe haven.

Ketika Yield Curve AS mengalami inversi, yakni saat spread yield obligasi 2-tahunan dan 10-tahunan jatuh ke bawah nol, artinya ada indikasi resesi. Inversi yield curve diperparah oleh data yang lemah dari China dan Jerman, serta memudarnya optimisme tentang kemajuan yang dilaporkan dalam pembicaraan perdagangan AS-China.

Pasalnya, setelah Trump menunda ancaman kenaikan tarif terhadap sejumlah barang impor China menjadi hingga Desember 2019, China tak serta merta memberikan konsesi. Kendati demikian, Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross mengatakan bahwa China memang tidak berkewajiban untuk itu, meskipun negosiasi akan terus diupayakan dan pasar diharap bersabar.

“(Penundaan tarif) Ini bukanlah sebuah quid pro quo,” kata Ross dalam wawancaranya dengan CNBC, menggunakan istilah Latin yang artinya saling bertukar bantuan.

Output Industri China Melorot

Selain itu, alasan para investor memburu Yen adalah akibat menurunnya performa ekonomi China. Output negeri Tirai Bambu pada bulan Juli 2019 tumbuh dengan laju yang paling lamban dalam 17 tahun terakhir. Kondisi ini diasumsi sebagai sinyal adanya tekanan dalam permintaan produk industri negara tersebut.

Oleh karena itu, lonjakan USD/JPY kemarin tak berlangsung lama dan terkoreksi malam ini. Para analis pun memang sudah memperkirakan bahwa penguatan Dolar AS pasca penundaan tarif Trump masih terbebani.

“Saya sudah mengira bahwa kenaikan minat risiko kemarin akan berlangsung singkat saja, dan rupanya (perkiraan saya) itu benar,” kata John Doyle, analis di Tempus Inc, Washington.

“Pembukaan kembali negosiasi dengan China adalah langkah yang positif, tetapi belum ada progres yang riil dalam beberapa bulan terakhir, sehingga saya rasa pasar akan mulai mengurangi harapan mereka akan de-eskalasi AS-China karena sejarah terakhir memang tak banyak menunjukkan kemajuan.”

Baca Juga:   Para Pemimpin Ue Dan Inggris Sepakat Untuk Memperpanjang Batas Waktu Brexit Hingga Akhir Oktober

Tinggalkan sebuah Komentar