Setelah Pulih Dari Terendah 17 Tahun, Minyak Mentah Kembali Berkonsolidasi Karena Pemulihan Dolar AS

Hari ini pergerakan minyak mentah global di berjangka WTI mengalami fase konsolidasi setelah sempat melonjak. Kenaikan sebelumnya merupakan upaya pemulihan harga minyak mentah dari level paling rendah selama 17 tahun terakhir. Berbagai masalah telah menyebabkan tolak ukur energi merosot menuju ke level harga 19,27.

Tapi sayangnya pemulihan tersebut harus terhenti ketika sampai pada level harga 21,40. Pemulihan itu mewakili kenaikan sekitar 6,22 persen dalam pergerakan harian. Saat ini target selanjutnya energi mungkin mengincar level harga 22,00.

Pulih Dari Terendah Tahunan

Tolak ukur energi pada akhirnya kembali mendapatkan kehidupan setelah anjlok menuju ke level paling rendah dalam tahunan. Optimisme datang setelah Presiden Trump dan Presiden Putin melangsungkan pembicaraan lewat saluran telepon. Kedua pimpinan negara itu membicarakan masalah pentingnya menjaga pasar minyak agar tetap stabil.

Sayangnya pemulihan harga minyak mentah harus terhenti saat dekat dengan level harga 22,00. Berhentinya upaya pemulihan terjadi setelah Dolar AS pulih dari level rendahnya sepanjang pekan lalu. Sehingga berdampak minyak mentah yang denominasi Dolar AS harus menyerah dan bertahan disekitar level harga 21,00.

Tapi bagaimanapun juga tampaknya masa depan permintaan minyak mentah global juga dibayangi proyeksi suram. Pasalnya perlambatan ekonomi global akan benar-benar terjadi setelah wabah virus Corona terus memburuk di beberapa negara. Sehingga ekonomi yang lambat akan menurunkan aktivitas produksi yang dominan memanfaatkan minyak mentah.

Selanjutnya para pedagang minyak mentah akan lebih fokus ke rilis data mengenai pasokan minyak mentah AS dari API. Data itu akan mampu menggerakkan harga minyak mentah karena terkait dengan jumlah pasokan energi global. Selain itu para pedagang juga akan fokus ke langkah para pembuat kebijakan global dan berita utama terkait wabah virus Corona.

 

Baca Juga:   NZDJPY Turun Setelah Prediksi Perlambatan Ekonomi dan Risiko Suku Bunga Negatif RBNZ

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar