Saham Asia Tidak Stabil Naik Turun Ketika Geopolitik Memanas, Menunggu Pertemuan FOMC

Perdagangan saham Asia masih terlihat masuk ke fase stagnan setelah suasana risk-off menyelimuti pasar global. Para pelaku pasar dan investor mulai khawatir setelah terjadinya penyerangan terhadap pusat fasilitas minyak mentah di dunia yang berada di Arab Saudi. Sampai sekarang belum ada kabar pembaruan mengenai konflik tersebut.

Suasana sentimen risiko yang meredup bahkan tidak mampu terdorong dengan pengumuman yang disampaikan oleh Presiden Trump. Dia mengatakan akan mencapai kesepakatan dagang tahap awal dengan jepang. Sementara itu kabar optimis lain juga menyebutkan diplomat dari China melakukan kunjungan ke AS untuk melakukan pembicaraan awal sebelum puncak negosiasi pada bulan Oktober mendatang.

Nada pasar yang optimis juga ditunjukkan oleh rilis data dari Australia dan juga China mengenai perumahan yang optimis. Mungkin fase stagnan yang terjadi pada pasar saham Asia disebabkan telah mendekati pertemuan FOMC pada besok hari Rabu (18/9). Sering kali pasar lebih memilih menunggu rilis kebijakan moneter dari AS sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam pasar.

Melemahnya Sentimen Risiko Pasar

Selain itu beberapa nada negatif mungkin juga menjadi faktor yang menyebabkan risk-off pasar cukup kuat. Bank sentral Australia telah menyampaikan risalah pertemuannya dengan hasil yang dovish. RBA akan melakukan pemangkasan kembali suku bunga jika memang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mencapai target angka inflasi.

Sentimen risiko pasar yang lemah dan membuat saham Asia stagnan terbukti pada imbal hasil obligasi Treasury pemerintah AS tenor 10 tahun yang mengalami penurunan. Bahkan penurunan terjadi sejak Senin kemarin yang menuju ke level 1,830 persen. Beberapa saham Asia seperti MSCI Asia Pasifik kecuali jepang mengalami penurunan 0,70 persen sepanjang hari ini. Selain itu HANG SENG China juga mengalami penurunan mencapai diatas 1 persen.

Baca Juga:   Indeks Dolar AS Bertahan Di Level Penting 99,00 Menunggu Data dan Sentimen Risiko

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar