Saham Asia Menampilkan Sinyal Campuran Berusaha Positif Di Tengah Kekhawatiran Virus Corona

Untuk kesekian kalinya sejak akhir Januari lalu, sentimen risiko kembali tersiksa karena kekhawatiran terhadap wabah virus Corona. Menjelang pembukaan sesi dagang kawasan Eropa hari Kamis (20/2) saham Asia diperdagangkan dengan bias negatif. Salah satu alasannya adalah jumlah laporan kasus yang terus bertambah dan jumlah kematian yang tinggi. Sementara itu China kembali melakukan perubahan metode penelitian wabah tersebut.

Menanggapi kondisi yang mengkhawatirkan, raksasa pemeringkat global yaitu S&P dan Direktur Pelaksana IMF yaitu Kristalina Georgieva memberikan komentar yang membuat sentimen risiko mati. Bahkan kekhawatiran menjadi fokus pergerakan saham Asia hari ini mengabaikan berita keputusan suku bunga dari PBoC tadi pagi. Data pengangguran Australia yang mengecewakan juga tidak ditanggapi oleh pedagang saham.

Sinyal Campuran

Saat ini indeks saham MSCI tanpa Jepang mengalami penurunan sampai 0,60 persen. Sedangkan Nikkei Jepang juga mengalami penurunan setelah awa hari sempat naik. Di tengah saham Asia yang negatif, saham Shanghai Composite China mampu menampilkan kinerja positif. Namun Hang Seng HK juga mengalami penurunan 0,60 persen menuju ke 27.495.

Saham Australia dan New Zealand juga mampu berkinerja positif karena penurunan peluang pemangkasan suku bunga oleh RBA. Walaupun pengangguran Aussie mengalami kenaikan pada laporan data tadi pagi. Adanya penghindaran risiko juga tergambar dengan penurunan pada imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun ke 1,559%. Indeks S&P 500 justru tampil positif mengekor Wall Street menuju ke puncak terbaru.

Para pelaku pasar dan investor global akan terus mengawasi kondisi perekonomian China dan ekonomi global. Dengan adanya pemotongan suku bunga oleh bank sentral China maka menjadi konfirmasi ekonomi China akan melambat. Kabar terbaru mengenai wabah virus Corona juga akan tetap menjadi topik utama penggerak selera risiko pasar.

 

Baca Juga:   USDJPY Turun Menuju Ke Terendah Akhir 2016 Karena Risk Off Mendukung Yen Jepang

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar