Saham Asia Diperdagangkan Beragam Di Tengah Nada Risiko yang Berat

Perdagangan ekuitas di kawasan Asia tampak berada dalam posisi campuran saat sesi Asia berlangsung di hari Rabu (22/1). Sinyal beragam dari pergerakan saham Asia disebabkan oleh selera risiko yang terbebani akibat virus Corona yang sedang mewabah di China. Beberapa saham mampu mencetak kenaikan yang moderat dan beberapa saham lain mengalami penurunan.

Saham Nikkei Jepang dilaporkan mengalami kenaikan sampai 0,54 persen saat sesi Asia berlangsung. Nada senada juga terlihat pada saham Australia ASX 200 dan New Zealand NZ 50 yang mengalami kenaikan moderat. Di sisi lain, indeks saham Shanghai Composite justru mengalami penurunan selama dua hari terakhir dan hari ini telah kehilangan 0,56 persen.

Saham China kemungkinan sangat terbebani oleh  berita mengenai virus Corona yang menyerang wilayah China beberapa hari terakhir. Komisi Kesehatan Nasional China telah memberikan konfirmasi bahwa virus itu menewaskan sebanyak 9 warga pada laporan hari Selasa kemarin.

Ekuitas Global Turut Negatif

Selain saham Asia, perdagangan Wall Street juga mencetak kinerja negatif pada hari ini yang juga diikuti oleh saham Eropa. Para pelaku pasar dan investor sangat terbebani oleh virus Corona yang mulai mengkhawatirkan. Pasalnya virus tersebut bisa saja menyebar sampai ke seluruh pelosok dunia. Namun kabar terbaru menampilkan kenaikan pada indeks S&P 500 menuju ke 0,27 persen.

Ketika para pelaku pasar memilih menghindari segala risiko global saat ini yang membebani saham Asia, keuntungan besar diperoleh beberapa aset safe haven seperti logam mulia dan juga Yen Jepang. Saat ini pasangan mata uang USDJPY mengalami kenaikan ringan ke 110,00 setelah merosot ke 109,83 saat sesi awal Asia. Tapi pada akhirnya saham China mampu kembali tumbuh setelah merosot sampai ke terendah tahun 2020 ini.

 

Baca Juga:   Pasar AS Bisa Bergerak 15% Lebih Tinggi, Kata Investor

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar