Rupiah Menguat Kembali Terhadap Dolar AS, Menjadi Jawara Di Asia

Nilai tukar mata uang Rupiah menguat pada hari Jumat ini (15/5) menjelang pembukaan sesi Eropa. Adanya pemulihan sentimen risiko global menjadi pendorong utama Rupiah untuk mendominasi di atas Dolar AS. 

Dengan penguatan ini maka pasangan USDIDR kembali mencatatkan penurunan 0,10% menuju ke 14.825. Meskipun saat sesi awal Asia tadi pagi, USDIDR sempat naik sampai 0,34%. Namun risiko yang menguat mendukung Rupiah Indonesia untuk unggul.

Walaupun Rupiah menguat hanya 0,10%, itu dinilai suatu penguatan yang sangat baik untuk mata uang kawasan Asia di hari Jumat ini. Karena sebagian besar mata uang Asia hari ini mencatatkan penurunan. Sementara itu Rupiah juga mampu unggul terhadap mata uang Asia lain seperti baht Thailand dan juga Rupee India.

Jika penutupan pasar hari Jumat ini Rupiah mampu mempertahankan kinerja positifnya, maka USDIDR akan mencatatkan penurunan beruntun dalam tiga hari tanpa jeda. Selain itu juga menjadi catatan yang baik dalam perdagangan mingguan. Pasalnya pada pekan lalu momentum Rupiah menguat selama empat pekan tanpa jeda harus dipatahkan. Kemudian diharapkan pekan ini mampu ditutup dengan arah yang positif.

Pemulihan Risiko

Penyebab penguatan mungkin adalah data ekonomi China mengenai produksi industri yang dilaporkan sangat memuaskan. Data itu mengalami kenaikan ke 3,9% tahun ke tahun terhadap prediksi sebelumnya yang lebih rendah. Optimisme tetap ada walaupun data penjualan eceran China masih dalam posisi negatif di -7,5% lebih baik dari sebelumnya di 15,8%.

Selain itu semalam juga ada harapan stimulus fiskal baru untuk ekonomi AS yang mendorong penguatan aset berisiko. Wall Street mencatatkan kenaikan setelah rumor itu meluas. Rupiah menguat saat ini tampaknya mengambil nada optimisme dari harapan stimulus fiskal AS tersebut. 

 

Baca Juga:   China Enggan Menyetujui Kesepakatan Dari Trump, Perang Dagang Kembali Panas

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar