Rupiah Ditutup Melemah Di 14151, Di Tengah Upaya Pemakzulan Trump

Rupiah terus melemah terhadap Dolar AS. Menjelang penutupan bursa di hari Rabu (25/September) sore ini, USD/IDR Bloomberg sudah mencapai 14,155, naik 0.29 persen dibandingkan harga pembukaan di 14,120. Sementara itu, Kurs Referensi JISDOR menunjukkan nilai tukar Rupiah di Rp14,134, lebih tinggi dibandingkan kemarin di Rp14,099.

kur rupiah dolar as

Dari sisi domestik, pelemahan Rupiah masih dipengaruhi oleh demonstrasi mahasiswa di beberapa wilayah di Indonesia, terkait tuntutan mereka untuk membatalkan sejumlah RUU. Menurut Ahmad Yudiawan dari Monex Investindo, unjuk rasa tersebut menyurutkan minat investasi asing sehingga mereka memilih keluar dari pasar Indonesia.

Sedangkan faktor dari segi eksternal terbilang lebih banyak. Pertama, kabar soal usaha pemakzulan Trump oleh House of Representatives AS. Namun hal itu tidak memberikan tekanan yang lama bagi Dolar AS. Sebagai informasi, Anggota Partai Demokrat di US House of Representatives secara formal menerbitkan rencana penyidikan (impeachment inquiry) untuk memakzulkan Trump.

Presiden AS itu diduga menyalahgunakan kekuasaannya dengan mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, untuk mengusut dugaan korupsi terhadap Hunter Biden–anak Joe Biden–yang merupakan salah seorang anggota komisaris perusahaan energi di Ukrainya. Selain itu, dugaan korupsi terhadap Hunter Biden pun ditengarai hanyalah fitnah untuk menurunkan reputasi Joe Biden.

Kedua, perkembangan perang dagang AS-China. Hal ini rupanya lebih diperhatikan oleh pasar. Meskipun sempat membangkitkan harapan kesepakatan seiring dengan rencana dialog kedua negara itu dua minggu lagi, tetapi delegasi China di AS dikabarkan pulang leboh cepat dari jadwal Hal itu diduga karena rencana pembelian produk pertanian AS oleh China di bawah ekspektasi.

Dari beberapa faktor di atas, analis mata uang Josua Pardede memprediksi bahwa nilai tukar Rupiah ke depan akan bergerak di rentang Rp 14,050–Rp14,150 per dolar AS.

Baca Juga:   Emas Melonjak Ke Puncak Tujuh Pekan Setelah Data AS Suram dan Kabar Politik AS-China

Tinggalkan sebuah Komentar