Pound Naik Merespon Sinyal Meredanya Potensi No Deal Brexit

Poundsterling naik ke level tertinggi sejak Juli, setelah PM Inggris Boris Johnson menekankan bahwa ia menghendaki kesepakatan Brexit sesuai dengan deadline pada akhir bulan depan.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Dublin bersama dengan PM Irlandia Leo Varadkar Senin (09/September) sore, Johnson mengatakan bahwa ia tak menginginkan penundaan untuk mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa. Pernyataan tersebut diasumsi sebagai sinyal meredanya potensi No Deal Brexit sehingga membuat Poundsterling menguat.

gbpusd

Selain itu, data ekonomi Inggris kemarin juga menunjukkan peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi. GDP Inggris dalam basis bulanan untuk bulan Juli 2019, naik ke 0.3 persen, setelah stagnan di 0.0 persen pada bulan sebelumnya. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Inggris makin menjauh dari kemungkinan resesi jelang Brexit.

Tak hanya itu, Produksi Manufaktur Inggris–yang mengukur perubahan total nilai inflasi yang disesuaikan dengan output produksi pabrikan–juga naik pesat menjadi 0.3 persen di bulan Juli, dari-0.2 persen pada bulan sebelumnya.

Meski Menguat, Poundsterling Dibayangi Ketidakpastian

Selama sepekan di bulan September ini, Poundsterling telah menghapus loss-lossnya setelah pelemahan Pound besar-besaran sejak terpilihnya Johnson sebagai perdana menteri. Di lain pihak, Parlemen Inggris terus berusaha menjegal langkah-langkah Hard Brexit yang dilancarkan Johnson, dan sekarang memaksanya untuk mengulur lagi deadline Brexit dengan Uni Eropa, yang sedianya akan dilaksanakan tanggal 31 Oktober mendatang. Namun, Johnson rupanya tak berminat untuk menunda lagi meski sudah tak menggembar-gemborkan No Deal Brexit.

Meskipun Pound menguat hari ini, para analis mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, mata uang Inggris tersebut masih diliputi ketidakpastian.

“Sejumlah faktor negatif masih menghadang Pound sterling dan short-squeeze yang terjadi belakangan ini kemungkinan akan berlanjut untuk sekarang,” kata Valentin Marinov, pakar forex dari Credit Agricole. “Kami mengekspektasikan undang-undang penundaan Brexit akan mendapat persetujuan dari Kerajaan, sehingga risiko No Deal Brexit akan tersingkir, setidaknya sampai dengan kuartal keempat tahun 2019.”

Baca Juga:   Saham AS Mengisyaratkan Koreksi Saat Musim Panas, Fase Selanjutnya Menantang Pasar

Tinggalkan sebuah Komentar