Pentingnya Money Management (MM) Dalam Trading Forex

Apakah Anda sudah mencoba trading forex menggunakan bermacam-macam indikator dan strategi, tapi gagal terus? Apakah Anda sering menang, tapi keuntungan tetap lebih rendah dibandingkan kerugian? Apakah Anda sudah beli buku dan ikut seminar forex mahal, tapi hasilnya nihil? Atau barangkali, Anda sudah meniru teknik trading yang diajarkan seorang Master Trader, tapi tetap saja mengalami Margin Call? Semua masalah ini biasanya disebabkan karena Anda belum menerapkan Money Management yang baik dalam trading forex.

Money Management (MM) adalah tata kelola dana dalam akun trading yang setidaknya mencakup penjagaan saldo akun (balance), volume trading (lot) per transaksi, dan rasio Risk/Reward (RR). Banyak trader forex pemula yang tidak memahami pentingnya Money Management dalam trading forex, sehingga justru trading seperti gambling (judi), dengan mempertaruhkan uang secara sembarangan atau berdasarkan firasat saja. Faktanya, ketidakpahaman trader pemula mengenai pentingnya Money Management ini merupakan salah satu penyebab utama mengapa banyak trader yang bangkrut saat baru mengenal dunia forex.

Money Management (MM)

5 Alasan Mengapa Money Management Itu Penting

  1. Trader forex pemula seringkali kehabisan saldo, karena membuka posisi trading terlalu banyak, atau menerapkan jumlah lot terlalu besar per transaksi (over-trading). Akibatnya, trader mengalami Margin Call terlalu cepat. Sebagian posisi trading-nya ditutup otomatis oleh platform, padahal belum sampai dapat untung sedikitpun. Oleh akrena itu, ada pakar yang mengatakan bahwa trader pemula semestinya belajar Money Management dulu, sebelum belajar cara analisa teknikal ataupun fundamental.
  2. Tanpa aturan Money Management yang jelas, trader cenderung melibatkan emosi dalam pembuatan keputusan trading-nya. Sebagai contoh: Ketika baru saja kalah besar, trader malah membuka posisi trading dalam lot kecil, karena ingin “balas dendam” dengan menutup kerugian secepat-cepatnya. Padahal, jika kondisi pasar saat itu memang sedang tidak cocok dengan teknik trading Anda, nantinya malah Anda bisa mengalami kerugian yang jauh lebih besar lagi.
  3. Trading forex tanpa Money Management akan membuat Anda bingung harus melakukan apa saat menderita kerugian beruntun (drawdown). Sudah ganti pair, ganti indikator, kok masih rugi terus? Setelah itu, injeksi saldo dan trading lagi, tapi kembali mengalami hal yang sama. Dalam situasi ini, apa yang harus dilakukan? Trader yang paham pentingnya Money Management bisa jadi akan mengurangi besarnya volume trading (lot) per transaksi, atau malah berhenti trading dulu hingga kondisi pasar menjadi lebih tenang.
  4. Tanpa aturan Money Management, trader tak punya standar ambil profit dan toleransi kerugian yang jelas. Saat suatu posisi trading baru untung sedikit, mungkin sekitar 4-5 pips, langsung ditutup untuk take profit karena takut kalau harga berubah arah. Namun, ketika ada posisi trading yang tak sesuai ekspektasi malah dibiarkan floating dengan harapan suatu saat nanti akan berbalik jadi cuan, hingga akhirnya rugi ratusan pips. Berharap sampai kapan? Ini harus ada standarnya dalam bentuk Stop Loss. Apabila trading forex secara sembarangan begini, tak ada target profit dan Stop Loss, maka dapat dipastikan bahwa kerugian total bakal jauh melebihi keuntungan yang didapat.
  5. Ketika awal trading forex tanpa Money Management, bisa jadi Anda mengalami keuntungan. Sebutlah itu “beginner’s luck” alias keberuntungan pemula. Namun, hal itu takkan bertahan lama. Begitu kondisi pasar berubah dan Anda melibatkan emosi, maka keuntungan ludes, modal pokok hangus, kemudian bangkrut. Agar bisa mendapatkan keuntungan secara konsisten dalam trading forex, setiap trader harus menerapkan suatu aturan Money Management tertentu.
Baca Juga:   Mengapa Harus Trading di Broker Forex yang Teregulasi Resmi?

Konsep Dasar Money Management

Konsep Dasar Money Management (MM)

Money Management adalah kunci kesuksesan para trader profesional, baik mereka yang trading untuk dirinya sendiri, maupun mereka yang bekerja di lembaga-lembaga keuangan besar. Buku-buku dan artikel mengenai topik ini pun sudah banyak tersedia. Namun, pada umumnya, pembahasan mengenai Money Management itu cukup rumit, karena setiap trader akan menyesuaikannya dengan persediaan modal dan minat risiko masing-masing.

Bagi trader pemula, yang terpenting adalah memahami konsep Money Management dasar, kemudian melakukan percobaan pada akun demo untuk menyusun aturan yang paling ideal berdasarkan pengalaman simulasi trading tersebut. Nah, untuk itu, di sini akan dijelaskan tiga konsep Money Management paling dasar.

  1. Persentase modal yang dipergunakan untuk trading dalam satu waktu.

Apabila sudah mencoba trading forex, pada akun riil maupun akun demo, tentu Anda tahu bahwa saldo akan naik-turun (floating) mengikuti keuntungan dan kerugian pada pada posisi trading yang masih terbuka. Oleh karena itu, misalnya Anda punya modal 1000 Dolar AS, maka tak boleh menggunakan keseluruhannya untuk open posisi. Perubahan harga di pasar forex bisa terjadi sewaktu waktu dan besarnya pun bisa sangat tinggi. Jadi, setiap saat, trader harus menyisakan sebagian besar saldo sebagai “bantalan” agar posisi trading bisa floating dan survive lebih lama.

Kalau begitu, lalu berapa besar modal yang boleh digunakan untuk trading forex? Mengenai ini, ada beberapa aturan umum yang lazim dipakai oleh mayoritas trader. Diantaranya aturan 5 persen (5% rule), aturan 3 persen (3% rule), atau aturan 2 persen (2% rule). Artinya, dalam satu waktu, trader hanya boleh menggunakan persentase sebesar itu saja dari modal, tak peduli apakah dia membuka satu posisi trading saja atau membuka beberapa posisi trading. Anda bisa menyesuaikannya sendiri dengan minat risiko Anda. Tentunya, semakin besar persentasenya, maka makin besar pula risikonya.

  1. Pengaturan volume trading (lot) per transaksi.
Baca Juga:   Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Mata Uang

Berapa besar lot yang Anda gunakan setiap kali trading? Ada trader yang menentukan 1 lot mini, (0.1) 1 lot standar (1), 3 lot mikro (0.03), atau lainnya. Boris Schlossberg, seorang trader terkenal, pernah menyarankan agar para trader pemula menggunakan ukuran lot terkecil saja, sebesar 1 lot mikro (0.01) setiap kali open posisi. Namun, ada pula trader profesional yang memberikan saran berbeda. Bahkan, ada trader profesional yang menggunakan rumus matematika rumit untuk mengatur volume trading-nya. Tentunya, pengaturan jumlah lot ini harus disesuaikan dengan persediaan modal Anda.

  1. Pengaturan rasio Risk/Reward per transaksi.

Secara harfiah, rasio Risk/Reward bemakna berapa besar keuntungan yang diharapkan dan kerugian yang dapat ditolerir dalam suatu posisi trading forex. Umpamanya, Anda menentukan bahwa setiap posisi trading akan mengikuti aturan Risk/Reward 1:2, berarti jika target profit sebanyak 20 pips, maka Anda akan menentukan Stop Loss pada jarak 10 pips. Jika Risk/Reward sebesar 1:3, maka saat target profit sebanyak 30 pips, Stop Loss ditempatkan pada jarak 10 pips. Demikian seterusnya.

Aturan rasio Risk/Reward yang ditetapkan oleh setiap trader bisa berbeda-beda. Namun, satu hal yang pasti: Rasio Risk/Reward minimal adalah 1:1.5. Artinya, Anda tak boleh menerapkan target profit dan Stop Loss pada jarak yang sama. Mengapa demikian? Karena kalau begitu, maka keuntungan Anda akan sangat tergantung pada indikator teknikal atau strategi yang diterapkan. Begitu kondisi pasar berubah jadi tak cocok dengan indikator, Anda bakal mengalami rugi besar-besaran dan sulit sekali untuk pulih. Sebaliknya, jika Rasio Risk/Reward-nya lebih dari 1:1, maka ada kemungkinan bagi Anda untuk memulihkan kerugian beruntun dalam waktu lebih singkat. Hasil trading Anda pun takkan terlalu tergantung pada kehandalan indikator dan kondisi pasar.

Baca Juga:   Mengenal Platform Trading MetaTrader 4 dan MetaTrader 5

Beri rating artikel ini:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...

Tinggalkan sebuah Komentar