Pengertian Hard Brexit Dan Soft Brexit

Dalam memahami berita terkait Poundsterling Inggris, ada baiknya jika seorang trader memahami fundamental politik Inggris guna menentukan keputusan trading yang lebih akurat. Satu yang paling sering disorot dan sangat berpengaruh pada Pound adalah perkara Brexit.

Terpilihnya Boris Johnson sebagai PM Inggris di tahun 2019 ini, kembali memunculkan harapan akan keluarnya Inggris secara “Hard Brexit”, setelah Theresa May gagal membawa Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa sesuai dengan cita-cita awal Brexit. Lantas, apakah pengertian Hard Brexit itu?

 

Definisi Hard Brexit

Hard Brexit adalah istilah untuk potensi hasil negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa, dimana Inggris akan melepas sepenuhnya keanggotaan dalam pasar tunggal (Single Markets) Eropa.

Hard Brexit–yang merupakan alasan dan misi awal perceraian Inggris Uni Eropa–membuka peluang bagi Inggris untuk secara mandiri mengendalikan anggaran negara, undang-undang, dan hak untuk mengendalikan imigrasi, tanpa harus tunduk kepada aturan Uni Eropa.

Memilih Hard Brexit artinya pemerintah Inggris harus dapat membuat para petinggi Uni Eropa meneken pakta-pakta perdagangan baru ataupun segera membuat kesepakatan antara industri per industri, dengan Uni Eropa. Namun jika gagal, maka Inggris akan menghadapi No Deal Brexit.

No Deal Brexit adalah situasi saat Inggris dan Uni Eropa gagal mencapai kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak dalam target waktu yang telah ditentukan. Jika demikian, maka perusahaan-perusahaan di Inggris akan diarahkan untuk mengikuti aturan standar World Trade Organization (WTO), yang di dalamnya ada aturan untuk menetapkan tarif (bea impor/ekspor) jika Inggris ingin menjalin hubungan dengan Uni Eropa atau sebaliknya.

 

Definisi Soft Brexit

Jika ada yang hard, maka ada yang soft. Soft Brexit adalah situasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan mempertahankan sejumlah akses bebas tarif ke Single Markets Uni Eropa. Kasarnya, Soft Brexit ini adalah metode perceraian yang “tanggung”.

Baca Juga:   Apa Itu Broker Forex

Sebab, Inggris kemungkinan masih harus berkontribusi pada anggaran keuangan Uni Eropa, membuka kebebasan bagi mobilitas tenaga kerja, dan mengikuti sebagian aturan-aturan Uni Eropa lainnya. Dengan kata lain, Inggris akan memiliki status seperti Norwegia, yang merupakan anggota European Economic Area, namun bukan anggota Uni Eropa.

Soft Brexit ini cenderung disukai oleh para investor, karena mereka memang menganggap bahwa peluang investasi di Inggris akan lebih menarik apabila tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Oleh karena itu, apabila muncul kabar yang mengarah pada Soft Brexit, maka Poundsterling cenderung menguat. Sebaliknya, jika Hard Brexit digaungkan, seperti terpilihnya Boris Johnson saat ini, maka Poundsterling akan cenderung melemah.

Tinggalkan sebuah Komentar