Minyak Mentah WTI Pulih Ringan, Kesulitan Menembus 25,00 Meski Harapan Stimulus AS Meningkat

Pergerakan harga minyak mentah global mengalami kenaikan pada perdagangan hari Rabu (25/3). Energi mengalami kenaikan setelah adanya harapan yang lebih baik mengenai stimulus pemerintah AS yang mencapai $2 Triliun. Dana itu akan digunakan untuk menanggulangi perlambatan ekonomi akibat wabah virus Corona di Amerika Serikat. Para pembuat kebijakan AS sudah cukup dekat dengan kesepakatan RUU stimulus tersebut.

Saat ini harga minyak mentah berada di level 27,81 di berjangka Brent atau naik sampai 2,43 persen. Sementara itu minyak berjangka WTI AS juga mengalami kenaikan ke 24,72 atau sebesar 2,96 persen. Dorongan utama energi saat ini datang dari semakin dekatnya stimulus ekonomi AS. Selain itu kondisi China yang terus membaik juga membuat harapan permintaan energi menguat kembali.

Energi Masih Tertekan

Sejak hari Selasa kemarin, minyak berjangka WTI terus bergerak dengan ruang yang sempit. Harga minyak mentah tampak kesulitan untuk menembus level 25,00 sampai saat ini. Penutupan hari Selasa WTI AS hanya mampu ditutup pada level harga 24,01. Tolak ukur energi masih terus berusaha untuk bisa memulihkan diri dari penurunan tajam sampai 60 persen pada bulan Maret ini.

Penurunan harga minyak mentah terjadi karena adanya wabah virus Corona yang melanda China dan beberapa negara lain. Hal itu menyebabkan aktivitas produksi yang menggunakan bahan bakar harus dihentikan untuk mengurangi penyebaran virus. Penurunan harga semakin parah ketika OPEC dan sekutu gagal mencapai kesepakatan penurunan produksi. Akhirnya Arab menjual minyaknya dengan harga rendah dan memancing perang harga dengan Rusia.

Namun saat ini minyak mentah mungkin akan kembali melonjak. Mengingat China akan membuka lockdown yang telah diberlakukan sebelumnya. Apalagi AS dilaporkan akan melakukan intervensi atas ketegangan hubungan antara Arab dengan Rusia terkait minyak mentah.

 

Baca Juga:   Poundsterling Tetap Stabil Meski Data Ekonomi Inggris Mengecewakan, Risiko Pelemahan Tetap Ada

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar