Kekhawatiran Virus Corona Akan Menghambat Penguatan Dolar Australia Pasca RBA

Serangan virus Corona yang terjadi di China dan beberapa negara membuat para pelaku pasar dan investor merasakan kekhawatiran yang mendalam. Pasalnya wabah tersebut akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi China. Dan dampak lebih luas akan menyebabkan perlambatan ekonomi Australia yang merupakan rekan dagang utama China, dan perlambatan ekonomi global.

Sejak akhir Januari kemarin, bahkan kabar terbaru mengenai virus Corona menjadi berita utama yang selalu ditunggu oleh para pedagang. Virus Corona terus menjadi katalis penggerak sentimen risiko dan sempat menyebabkan saham Shanghai sampai merosot 8%. Pada akhirnya pemerintah China melakukan langkah stimulus untuk menyeimbangkan kembali kondisi pasar yang sempat terguncang hebat.

Memang langkah tersebut telah meredakan kekhawatiran dan menyebabkan aset berisiko mulai menguat. Tapi jumlah korban yang meninggal dan positif terinfeksi terus meningkatkan kekhawatiran pedagang. Walaupun dilihat dari statistika, korban positif terinfeksi semakin melambat tapi jumlahnya sudah mencapai angka 42.000 dan korban tewas di atas 1000.

Kemarin di hari Senin, banyak perusahaan-perusahaan China yang sudah mewajibkan pekerjanya untuk masuk. Dengan kembalinya para pekerja telah membuat saham China mengalami kenaikan moderat. Bahkan Dolar Australia turut mendapatkan dampak positif atas kembalinya aktivitas ekonomi China karena juga berdampak tidak langsung terhadap ekonomi Australia.

Dampak Bagi Australia

Untuk Dolar Australia sendiri kemungkinan juga akan terus melanjutkan momentum kenaikannya yang dibangun pasca kebijakan moneter RBA kemarin. RBA juga memberikan komentar yang cukup positif terkait kondisi ekonomi Australia saat ini. Walaupun tetap memperhatikan wabah virus sebagai hambatan utama.

Namun bisa saja dalam pertemuan selanjutnya bank sentral Australia akan berubah pikiran. Karena wabah virus yang menyerang China akan menyebabkan alur perdagangan Australia dan China akan terganggu. Sehingga tingkat pendapatan Australia juga akan mengalami penurunan yang berdampak ke kebijakan moneter selanjutnya.

 

Baca Juga:   Setelah Pulih Dari Terendah 17 Tahun, Minyak Mentah Kembali Berkonsolidasi Karena Pemulihan Dolar AS

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar