Harga Minyak WTI Naik Lagi Usai Dihantam Tensi AS-China

Sempat terjungkal hingga hampir menyentuh $60 per barel pasca ancaman kenaikan bea impor Trump pada China, harga minyak WTI telah kembali rebound di sesi perdagangan Selasa (07 Mei) dini hari ini. Hal itu terjadi karena perhatian pasar yang beralih ke perseteruan AS-Iran.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) telah naik kembali ke posisi 62.57 di sesi New York, setelah jatuh sebanyak 3.1 persen ke level terendah lima minggu di sesi perdagangan sebelumnya.

Setelah sempat dikabarkan akan membatalkan negosiasi perdagangan dengan Washington Rabu besok, gara-gara ancaman kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 20 persen oleh Trump, media South China Morning Post mengklarifikasi bahwa perundingan tersebut tidak batal, melainkan hanya diundur.

Wakil Perdana Menteri China, Liu He, yang dijadwalkan akan bertolak ke AS Rabu besok, mengundurkan keberangkatannya menjadi hari Kamis. Meski demikian, menurut SCMP, nara sumbernya tak dapat menjamin bahwa Liu He memang akan berangkat pada hari Kamis. Kemungkinan pembatalan keberangkatan masih cukup besar, mengingat belum ada keputusan baru dari China untuk dibawa ke meja perundingan di Washington.

Sementara itu, Brent Crude sudah mundur sekitar 7 persen sejak akhir April, sehubungan dengan sinyal bahwa Outlook suplai minyak global tak akan seketat yang dikhawatirkan. Posibilitas bahwa dua negara ekonomi terbesar dunia–China dan AS–tak akan mencapai kesepakatan dagang, bisa saja membuat harga minyak terus melemah.

 

AS Intimidasi Iran Dengan Kirimkan Kapal Perang

Namun, kemungkinan jebloknya harga minyak tersebut sedikit mereda setelah kabar bahwa AS mengirimkan pesawat tempur dan kapal perang ke Timur Tengah, sebagai peringatan bagi Iran jika berani melanggar sanksi AS.

“Ada sedikit peningkatan risiko pada margin, sehubungan dengan memanasnya potensi perang dagang AS dan China. Namun, secara umum, aksi jual haril ini sudah berlebihan (overblown),” kata Bjarne Schieldrop, analis komoditas di sebuah bank Norwegia.

Baca Juga:   4 Negara Berkembang Yang Berkorelasi Kuat Pada Harga Minyak

Tinggalkan sebuah Komentar