Harga Minyak Naik Tipis Karena Laporan Potensi Stimulus Dari Pemerintah AS

Posisi perdagangan minyak mentah mampu mengalami penguatan pada hari Selasa ini (24/3) menjelang pembukaan sesi Eropa. Penguatan ringan terjadi karena adanya harapan bahwa akan ada stimulus yang diluncurkan oleh Amerika Serikat untuk mendukung ekonominya. 

Sebelumnya RUU virus Corona belum berhasil lolos dari voting Senat AS. Saat ini pemerintah akan terus berusaha meloloskan RUU tersebut untuk membuat ekonomi AS kembali stabil.

Saat sesi Asia, harga minyak mentah bergerak di sekitar level harga 27,8 di berjangka Brent atau mewakili kenaikan 0,26%. Semenrtara itu di berjangka WTI AS juga mengalami kenaikan menuju ke 24,19 atau mewakili pertambahan 2,5 persen di hari Selasa ini. Perusahaan energi nasional China memprediksi bahwa permintaan minyak mentah akan naik pada bulan Maret akhir.

Harapan Stimulus Mendorong Energi

Saat ini para pelaku pasar dan investor sedang menunggu adanya stimulus ekonomi yang akan diluncurkan oleh pemerintah AS. Harapan ini mampu memberikan dorongan positif bagi harga minyak mentah global. Pasalnya minyak mentah diperdagangkan di dunia dengan mata uang Dolar AS. Sementara itu stimulus akan menyebabkan jumlah uang kertas yang beredar menjadi lebih banyak dibandingkan dengan permintaan.

Kondisi ini akan menyebabkan nilai Dolar AS turun. Bahkan sebelumnya indeks Dolar AS sudah mengalami penurunan sampai 0,50 persen di hari Selasa. Nilai tukar USD yang turun, menyebabkan banyak negara yang mengimpor minyak karena dinilai harganya lebih murah. Hal ini membuat permintaan naik dan mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.

Perusahaan energi China yaitu CNPC mengatakan bahwa konsumsi energi akan naik setelah larangan perjalanan mulai dibuka kembali. Sehingga banyak perusahaan yang beroperasi dan membutuhkan minyak untuk proses produksinya. Bahkan diprediksi permintaan China akan naik sampai 41%.

 

Baca Juga:   Drama Pemakzulan Presiden Trump Akan Berlanjut di Senat AS

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar