Harga Emas Tertekan Kembali Karena Hidupnya Sentimen Risiko, Fokus Ke Risalah FOMC

Perdagangan logam mulia kemarin telah berhasil menutup hari dengan kenaikan yang cukup moderat. Lonjakan permintaan di hari Selasa (8/10) telah mendorong harga emas menuju ke level harga 1.511 sampai dengan pembukaan pasar hari Rabu ini (9/10). Namun pada akhirnya logam mulia harus rela kehilangan sentimen pembeli. Penyebab utama naiknya aliran jual emas adalah sentimen risiko yang sedang menguasai pasar.

Kabar utama pasar hari ini sangat ramai membahas masalah perdagangan global antara AS dengan China. Pasalnya kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu besok akan melakukan pertemuan dalam pembahasan kesepakatan dagang. Namun mendekati pertemuan justru sinyal pesimisme diterima pasar. Dinamika sentimen risiko memainkan pergerakan logam mulia untuk beberapa hari ini.

Dilansir dari Bloomberg berdasarkan kutipan dari pejabat bahwa China sebenarnya cukup terbuka untuk melakukan kesepakatan dagang parsial dengan AS. Walaupun ada kenyataan bahwa Menteri Luar Negeri China hari Selasa kemarin menyampaikan akan membalas aksi AS. Sebelumnya pemerintah AS memasukkan sebanyak 28 perusahaan China ke dalam daftar hitam.

Optimisme Perdagangan

Optimis yang membebani harga emas datang dari laporan bahwa China akan melakukan peningkatan impor pada sektor pertanian dari AS. Langkah ini menjadi sebuah angin segar bagi pasar dan akan meredakan ketegangan kedua negara yang panas mendekati pertemuan tingkat tinggi. Naiknya sentimen risiko tergambar dari lonjakan yang terjadi pada imbal hasil obligasi Treasury pemerintah AS dalam tenor 10 tahun yang bertambah 1,5 persen dalam harian.

Pergerakan harga emas selanjutnya akan fokus ke rilis risalah pertemuan FOMC bulan September. Selain itu juga ada pidato yang akan disampaikan oleh Ketua Fed Powell dimana sebuah peristiwa tersebut akan memberikan gambaran arah kebijakan moneter bank sentral selanjutnya.

Baca Juga:   Dolar Kanada Mencatat Level Tertinggi 11 Hari Karena Minyak Naik, Kekhawatiran Ekonomi Mereda

 

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar