AUD/USD Terus Menanjak, Andalkan Redanya Tensi AS-China

Dolar Australia terus menguat. Di awal pekan kedua September ini, AUD/USD naik 0.28 persen dengan diperdagangkan di level 0.6864, tertinggi sejak tanggal 2 September. Mengendurnya tensi konflik perdagangan AS-China menjadi faktor utama yang menopang penguatan Aussie.

audusd

Dolar Australia menanjak sejak awal pekan lalu, setelah AS dan China sepakat untuk kembali ke meja perundingan di bulan Oktober depan. Negosiasi tersebut bahkan disebut-sebut akan lebih serius untuk membicarakan solusi, setelah kedua negara saling menaikkan tarif impor.

Seperti yang telah diketahui, per 1 September lalu, AS mulai menaikkan tarif 15 persen terhadap sejumlah barang elektronik China. Sebaliknya, Beijing mulai menambah pajak bagi impor minyak mentah dari AS.

“Mengingat posisi geografis Australian dan kuatnya tautan perdagangan dengan China, maka Aussie sering diperdagangkan sebagai lose proxy bagi Outlook ekonomi terbaru,” kata Jane Foley, ahli strategi di Rabobank.

“Penurunan nilai tukar AUD tahun ini, tampaknya tak cukup melemahkan mata uang tersebut, selama perdebatan soal pelonggaran stimulus Bank Sentral Australia masih berlangsung.” lanjut Foley.

RBA Tahan Suku Bunga Dalam Sentimen Dovish

Sebagai informasi, Reserve Bank of Australia (RBA) mempertahankan suku bunganya di level 1 persen, Selasa (03/September) lalu. Meski tak menurunkan seperti yang diekspektasi pasar, Gubernur RBA Philip Lowe memberikan pandangan dovish, dengan memperingatkan bahwa kondisi ekonomi melemah dan ketidakpastian ekonomi global bisa memicu pemotongan suku bungan lagi.

“Pertumbuhan ekonomi Australia selama paruh pertama tahun ini, lebih rendah daripada yang diekspektasikan sebelumnya, dimana konsumsi masyarlat terbebani oleh pertumbuhan income yang terus melemah, serta jungkir baliknya harga rumah,” ungkap Gubernur Lowe dalam pernyataan pasca pengumuman kebijakan moneter RBA bulan September ini.

Baca Juga:   AS Berusaha Mengamankan Janji China Terkait Devaluasi Mata Uang

“Semakin kuat sinyal yang menunjukkan berbalik turunnya pertumbuhan pasar perumahan, khususnya di Sydney dan Melbourne,” demikian yang tertulis dalam pengumuman kebijakan RBA tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar